Daerah Khusus
Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara
Republik Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang
memiliki status setingkat provinsi. Jakarta terletak
di Tatar Pasundan, bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu pernah dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum
1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia/Batauia, atau Jaccatra (1619-1942),Jakarta Tokubetsu Shi (1942-1945) dan Djakarta (1945-1972). Di dunia internasional
Jakarta juga mempunyai julukan seperti J-Town, atau
lebih populer lagi The Big
Durian karena dianggap
kota yang sebanding New York City (Big Apple) di Indonesia.[1][2]
Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan:
6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 10.187.595 jiwa (2011). Wilayah
metropolitan Jakarta (Jabotabek) yang berpenduduk sekitar 28
juta jiwa,[8] merupakan
metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau
urutan kedua di dunia.
Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat
berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing.
Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor
sekretariat ASEAN.
Jakarta dilayani oleh dua bandar udara, yakni Bandara
Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma,
serta satu pelabuhan laut di Tanjung Priok.
SEJARAH JAKARTA
Etimologi
Nama Jakarta sudah
digunakan sejak masa
pendudukan Jepang tahun 1942, untuk menyebut wilayah
bekas Gemeente Bataviayang diresmikan
pemerintah Hindia
Belanda pada tahun 1905. Nama ini dianggap sebagai
kependekan dari kata Jayakarta(Dewanagari जयकृत), yang diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di
bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan)
setelah menyerang dan menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni
1527. Nama ini biasanya diterjemahkan sebagai "kota kemenangan" atau
"kota kejayaan", namun sejatinya artinya ialah "kemenangan yang
diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha".
Bentuk lain ejaan nama
kota ini telah sejak lama digunakan. Sejarawan Portugis, João de Barros,
dalam Décadas da Ásia (1553) menyebutkan keberadaan
"Xacatara dengan nama lain Caravam (Karawang)". Sebuah
dokumen (piagam) dari Banten (k. 1600) yang dibaca ahli epigrafi Van der Tuuk juga telah menyebut istilah wong
Jaketra,[13] demikian pula
nama Jaketra juga disebutkan dalam surat-surat Sultan
Banten dan Sajarah Banten (pupuh 45 dan 47) sebagaimana
diteliti Hoessein
Djajadiningrat.Laporan Cornelis
de Houtman tahun 1596 menyebut Pangeran
Wijayakrama sebagai koning van Jacatra (raja
Jakarta).
Sunda Kelapa (397–1527)
Jakarta pertama kali
dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang
bernama Sunda Kalapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Ibu
kota Kerajaan
Sunda yang dikenal sebagai Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran (sekarang Bogor) dapat ditempuh dari pelabuhan Sunda
Kalapa selama dua hari perjalanan. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa
merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain
pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kalapa yang dalam
teks ini disebut Kalapa dianggap pelabuhan yang terpenting karena dapat
ditempuh dari ibu kota kerajaan yang disebut dengan
nama Dayo (dalam bahasa Sunda modern: dayeuh yang
berarti "ibu kota") dalam tempo dua hari. Kerajaan Sunda sendiri
merupakan kelanjutan dari Kerajaan
Tarumanagara pada abad ke-5 sehingga
pelabuhan ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-5 dan diperkirakan merupakan
ibu kota Tarumanagara yang disebut Sundapura.
Pada abad ke-12, pelabuhan
ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang
sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah
berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk
ditukar dengan rempah-rempah yang
menjadi komoditas dagang saat itu.
Jayakarta (1527–1619)
Bangsa Portugis merupakan
Bangsa Eropa pertama yang
datang ke Jakarta. Pada abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda
meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk
mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan
serangan Cirebon yang akan
memisahkan diri dari Kerajaan
Sunda. Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka
tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya
Dikusumah, di mana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya
yaitu Mundinglaya. Namun sebelum pendirian benteng tersebut terlaksana, Cirebon
yang dibantu Demak langsung
menyerang pelabuhan tersebut. Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi,
karena penyerangan tersebut membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan
membunuh banyak rakyat Sunda di sana termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta,
pada tahun 1956 adalah
berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa olehFatahillah pada
tahun 1527. Fatahillah mengganti
nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota
kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan
Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya
yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan
di Kesultanan
Banten.
Batavia (1619–1942)
Belanda datang ke
Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17
diperintah oleh Pangeran
Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten.
Pada 1619, VOC dipimpin oleh Jan
Pieterszoon Coenmenduduki Jayakarta setelah mengalahkan
pasukan Kesultanan
Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia.
Selama kolonialisasi Belanda, Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan
penting. (Lihat Batavia).
Untuk pembangunan kota, Belanda banyak mengimpor budak-budak sebagai pekerja.
Kebanyakan dari mereka berasal dari Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok,
dan pesisir Malabar, India.
Sebagian berpendapat bahwa mereka inilah yang kemudian membentuk komunitas yang
dikenal dengan nama suku Betawi.
Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal
sebagai Kota
Tua di Jakarta Utara. Sebelum kedatangan para budak tersebut,
sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti
masyarakat Jatinegara Kaum. Sedangkan suku-suku dari
etnis pendatang, pada zaman kolinialisme Belanda, membentuk wilayah
komunitasnya masing-masing. Maka di Jakarta ada wilayah-wilayah bekas komunitas
itu seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung
Ambon, Kampung Bali, dan Manggarai.
Pada tanggal 9 Oktober 1740, terjadi kerusuhan di Batavia dengan
terbunuhnya 5.000 orang Tionghoa. Dengan terjadinya kerusuhan ini, banyak orang
Tionghoa yang lari ke luar kota dan melakukan perlawanan terhadap Belanda.[18] Dengan
selesainyaKoningsplein (Gambir)
pada tahun 1818, Batavia berkembang ke arah selatan. Tanggal 1 April 1905 di
Ibukota Batavia dibentuk dua kotapraja atau gemeente, yakni Gemeente
Batavia dan Meester Cornelis. Tahun 1920, Belanda membangun kota taman Menteng,
dan wilayah ini menjadi tempat baru bagi petinggi Belanda menggantikan Molenvliet di utara.
Pada tahun 1935, Batavia dan Meester Cornelis (Jatinegara) telah
terintegrasi menjadi sebuah wilayah Jakarta Raya.[19]
Pada 1 Januari 1926
pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem
desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk
pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah
provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Jawa yang diresmikan dengan surat
keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran
Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507.
Batavia menjadi salah satu keresidenan dalam Provincie West
Java disamping Banten, Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon.
Jakarta (1942–sekarang)
Jakarta (ジャカルタ特別市, Jakaruta
Tokubetsu Shi) (1942–1945)
Pendudukan oleh Jepang dimulai pada
tahun 1942 dan mengganti
nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini
juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai
pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Jakarta (1945-sekarang)
Sebelum tahun 1959, Djakarta
merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota
Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota
ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur.
Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno
Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI
waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status
Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI)
dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.[20]
Semenjak dinyatakan
sebagai ibu kota, penduduk Jakarta melonjak sangat pesat akibat kebutuhan
tenaga kerja kepemerintahan yang hampir semua terpusat di Jakarta. Dalam waktu
5 tahun penduduknya berlipat lebih dari dua kali. Berbagai kantung permukiman
kelas menengah baru kemudian berkembang, seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih,Pulo Mas, Tebet,
dan Pejompongan. Pusat-pusat
permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan
institusi milik negara seperti Perum Perumnas.
Pada masa pemerintahan Soekarno,
Jakarta melakukan pembangunan proyek besar, antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional. Pada masa
ini pulaPoros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai
dikembangkan sebagai pusat bisnis kota, menggantikan poros Medan
Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Pusat permukiman besar pertama yang dibuat
oleh pihak pengembang swasta adalah Pondok Indah (oleh PT
Pembangunan Jaya) pada akhir dekade 1970-an di wilayah Jakarta Selatan.
Laju perkembangan penduduk
ini pernah coba ditekan oleh gubernur Ali Sadikin pada awal
1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai "kota tertutup" bagi
pendatang. Kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa
kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus
bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk,
seperti banjir, kemacetan, serta kekurangan
alat transportasi umum yang memadai.
Pada Mei 1998, terjadi kerusuhan di
Jakarta yang memakan korban banyak etnis Tionghoa. Gedung MPR/DPR diduduki
oleh para mahasiswa yang menginginkan reformasi. Buntut kerusuhan
ini adalah turunnya Presiden Soeharto dari kursi
kepresidenan. (Lihat Kerusuhan
Mei 1998).
Kebudayaan Jakarta
Budaya Jakarta merupakan
budaya mestizo, atau sebuah
campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu
kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku
yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk
Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Jakarta merupakan daerah
tujuan urbanisasi berbagai ras di dunia dan berbagai suku bangsa di Indonesia,
untuk itu diperlukan bahasa komunikasi yang biasa digunakan dalam perdagangan
yaitu Bahasa
Melayu. Penduduk asli yang berbahasa Sunda pun akhirnya menggunakan
bahasa Melayu tersebut.
Walau demikian, masih
banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti
kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng, dan lain-lain yang masih
sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang
saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal
yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa
informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Melayu dialek Betawi.
Untuk penduduk asli di Kampung Jatinegara Kaum, mereka masih kukuh menggunakan
bahasa leluhur mereka yaitu bahasa Sunda.
Bahasa daerah juga
digunakan oleh para penduduk yang berasal dari daerah lain, seperti Jawa, Sunda, Minang, Batak, Madura, Bugis, Inggris dan Tionghoa. Hal demikian
terjadi karena Jakarta adalah tempat berbagai suku bangsa bertemu. Untuk
berkomunikasi antar berbagai suku bangsa, digunakan Bahasa Indonesia.
Selain itu, muncul juga bahasa gaul yang
tumbuh di kalangan anak muda dengan kata-kata yang kadang-kadang dicampur
dengan bahasa asing. Bahasa
Inggris merupakan bahasa asing yang paling banyak digunakan,
terutama untuk kepentingan diplomatik, pendidikan, dan bisnis. Bahasa Mandarin juga
menjadi bahasa asing yang banyak digunakan, terutama di kalangan pebisnis
Tionghoa.
TEMPAT WISATA JAKARTA
Monumen Nasional (Tugu Monas)
Inilah
monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki), didirikan untuk mengenang
perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari
pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Monumen yang dibangun oleh Presiden
Soekarno ini bermahkotakan lidah api yang dilapisi lembaran emas.
Monas
adalah tempat wisata di Jakarta yang paling populer, sekaligus pula salah satu
kebanggaan Republik Indonesia. Monumen yang diarsiteki oleh Friedrich Silaban
dan R.M. Soedarsono ini terbuka untuk umum setiap hari sejak jam 8 pagi hingga
3 sore, kecuali pada Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.
Di
bagian dasar Monas, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia pada kedalaman 3
meter. Museum ini berukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung
hingga 500 orang. Terdapat lift yang akan membawa Anda ke puncak Monas setinggi
115 meter, Anda dapat menyaksikan panorama Jakarta dari puncaknya. Kapasitas
lift menampung paling banyak 11 orang sekali angkut dan pelataran puncak Monas
maksimal dapat menampung hingga 50 orang.
Tiket
masuk Tugu Monas adalah sebesar Rp 5 ribu per orang (dewasa), mahasiswa Rp 3
ribu, dan anak-anak Rp 2 ribu. Untuk menggunakan lift ke puncak Monas, Anda
dapat membayar tiket lift sebesar Rp 10 ribu per orang (dewasa) atau mahasiswa
Rp 5 ribu.
Kepulauan Seribu
Kepulauan
Seribu, salah satu obyek wisata di Jakarta yang terdiri dari beberapa pulau
kecil ini adalah spot menarik dari antara tempat wisata lain yang masuk
propinsi DKI Jakarta.
Cakupan
Kepulauan Seribu terdiri dari Pulau Harapan, Pulau Bidadari, Pulau Tidung,
Pulau Pari, dan puluhan pulau lain. Sebagian besar di antaranya menawarkan
suasana santai jika dikunjungi bersama keluarga.
Di
Kepulauan Seribu, ada banyak aktivitas yang bisa Anda lakukan, mulai dari
diving, snorkeling, atau sekedar berjalan-jalan menikmati sunset di kala senja.
Ketersediaan sarana akomodasi yang baik di Kepulauan Seribu memudahkan
pengunjung yang ingin lebih lama menkimati pengalaman wisatanya.
Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Tak hanya populer bagi warga Jakarta, Taman
Mini Indonesia Indah atau TMII adalah pula destinasi populer bagi pengunjung
dari luar Jakarta yang ingin berwisata di Jakarta. Taman Mini
Indonesia Indah adalah tempat wisata menarik di Jakarta yang cocok dinikmati
bersama keluarga. Hal ini terbukti dari ribuan pengunjung memadati tempat
wisata ini, mayoritas terdiri dari anak-anak, kaum muda, dan orang tua.
Ada
banyak wahana menarik yang ditawarkan Taman Mini Indonesia Indah, seperti Kolam
Renang Snow Bay, Taman Among Puro, tak ketinggalan pula Taman Ria Atmaja,
Kereta gantung, serta puluhan wahana lain yang menarik. Disamping wahana, TMII
juga menawarkan wisata bernuansa edukasi yang cocok untuk kemajuan pendidikan
anak.
Pulau Tidung
Diantara
sekian banyak pulau kecil yang termasuk bagian dari Kepulauan Seribu, Pulau
Tidung mungkin tempat wisata paling menarik untuk dikunjungi. Pulau ini
memiliki garis pantai yang begitu teduh dan asri, membuat wisatawan betah
berlama-lama singgah di pulau kecil ini. Dominasi suasana yang tenang dan
nyaman tentunya sangat cocok untuk bersantai bersama teman, kerabat, dan
keluarga.
Sebagai salah satu bagian dari wisata pantai Jakarta yang indah, Pulau Tidung menawarkan
berbagai wahana air menarik seperti Jet Sky, Water Sport, Olahraga Kano, Banana
Boat, dan masih banyak lagi. Bagi Anda yang hobi mengunjungi tempat wisata air
di Jakarta, Pulau Tidung adalah satu destinasi favorit untuk liburan keluarga.
Kebun Binatang Ragunan
Kebun
Binatang Ragunan yang berdiri sejak 1864 ini pada mulanya dikelola oleh
perhimpunan penyayang Flora dan Fauna Batavia. Luas area tempat wisata di
Jakarta yang satu ini sebesar 147 hektar dan memiliki lebih dari 2.000 ekor
satwa. Kebun binatang Jakarta yang populer ini juga ditumbuhi lebih dari 50.000
pohon, membuat suasananya menjadi begitu sejuk dan nyaman.
Inilah
salah satu tujuan wisata anak di Jakarta yang terkenal, memberikan edukasi dan
pengenalan sejak dini bagi anak-anak terhadap kehidupan satwa secara langsung.
Tiket
masuk Kebun Binatang Ragunan hanya sebesar Rp 4 ribu (dewasa) per orang dan
anak-anak Rp 3 ribu. Anda dapat mengajak putera-puteri untuk menaiki wahana dan
satwa, seperti kuda tunggang, onta tunggang, kereta keliling, sepeda ganda,
hingga menonton pentas satwa. Tetapi tentu saja, masing-masing wahana dan satwa
tunggangan tersebut dikenai biaya.
Masjid Istiqlal
Inilah
masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dengan desain arsitektural
perpaduan dari arsitektur Indonesia, Timur Tengah, dan Eropa. Masjid nasional
yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia ini berawal dari gagasan Menteri Agama
RI saat itu, KH. Wahid Hasyim serta H. Anwar Tjokroaminoto. Kemudian oleh
Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno, pembangunan masjid diprakarsai dengan
pemancangan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal
pada tanggal 24 Agustus 1961.
Nama
“Istiqlal” berasal dalam bahasa Arab, artinya “Merdeka”. Masjid ini dibangun
sebagai ungkapan dan bentuk rasa syukur bangsa Indonesia, yang atas berkat dan
rahmat Tuhan YME telah terbebas dari tangan penjajah. Tahukah Anda, antara
Masjid Istiqlal dan Geraja Katedral Jakarta berada dalam lokasi yang sangat
dekat. Hal ini dimaksudkan oleh Presiden Soekarno sebagai lambang semangat
persaudaraan, persatuan, dan toleransi beragama di Indonesia sesuai Pancasila.
Masjid
Istiqlal memiliki arsitektur modern, dinding dan lantainya berlapis marmer dan
dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat, serta mampu menampung lebih dari
200 ribu jamaah. Rancang bangun masjid kebanggaan Indonesia ini diarsiteki oleh
Frederich Silaban, seorang penganut agama Kristen Protestan, dengan karya
desain masjid bersandi Ketuhanan.
Saat
ini, kunjungan wisatawan ke Masjid Istiqlal tak pernah sepi. Selain sebagai
tempat ibadan, masjid ini adalah pula objek wisata religi di Jakarta yang
terkenal, pusat pendidikan, serta pusat aktivitas syiar Islam.
Kota Tua Jakarta
Kota
Tua Jakarta adalah salah satu tempat wisata di Jakarta yang selalu ramai dikunjungi
para wisatawan. Kota Jakarta dengan landmark Kota Tua adalah pesona wisata
sejarah di Jakarta yang memberi banyak pengetahuan. Berbagai peninggalan masa
lampau masih dapat Anda jumpai di kawasan yang selalu ramai saat akhir pekan
ini. Juga, para pecinta fotografi akan selalu suka datang ke Kota Tua.
Ada
sejumlah landmark historis di kawasan Kota Tua ini, seperti Museum Fatahillah,
Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik,
dan Toko Merah. Tidak hanya tempat-tempat historis, Anda juga dapat menikmati
pengalaman kuliner di Kota Tua Jakarta dengan singgah di Cafe Batavia atau Cafe
Gazebo, serta aneka jajanan seperti gado-gado, soto, hingga kerak telor khas
Jakarta.
Taman Suropati
Taman
Suropati memiliki penataan taman yang rapi dan bersih. Tempat wisata di Jakarta
yang satu ini adalah salah satu tujuan favorit banyak warga ibukota untuk
melepas lelah atau sekedar bersantai dengan keluarga dan para sahabat.
Terletak
di kawasan elit Menteng, taman ini ditumbuhi pepohonan tinggi yang lebat
sehingga menghadirkan suasana yang sejuk dan nyaman.
Meski
luas taman yang sekitar 1.5 kali lapangan sepakbola, Taman Suropati selalu
ramai dikunjungi, terutama menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda di
Jakarta. Anda dapat menyaksikan aktivitas pengunjung yang berolahraga, atau
komunitas-komunitas yang berkumpul seperti komunitas biola, kelompok diskusi,
dan yang lainnya. Soal makanan, jangan khawatir sebab ada banyak penjual
makanan dan minuman di sekeliling taman ini.
Museum Nasional
Inilah
salah satu destinasi wisata di Jakarta yang sarat akan pengetahuan sejarah. Di
Museum Nasional, Anda dapat menjumpai sedikitnya 141.899 benda yang terhimpun
dalam 7 jenis koleksi, yaitu prasejarah, arkeologi, keramik,
numismtik-heraldik, sejarah, etnografi, dan geografi.
Museum
Nasional dibuka setiap hari Selasa – Minggu, dari jam 8 pagi hingga 4 sore,
saat weekend tutup hingga jam 5 sore. Anda dapat mengunjungi objek wisata
Jakarta yang satu ini dengan membayar tiket masuk Museum Nasional sebesar Rp 5
ribu (dewasa) per orang atau Rp 2 ribu (anak-anak). Jika Anda dalam rombongan
dengan minimum 20 orang, maka tiket masuk per orang dewasa adalah sebesar Rp 3
ribu dan anak-anak (TK – SMA) Rp 1.000. Turis asing dikenai biaya tiket masuk
sebesar Rp 10 ribu per orang.
Setu Babakan
Setu
Babakan adalah kawasan perkampungan dan telah ditetapkan menjadi kawasan cagar
budaya Jakarta, tempat dimana Anda dapat menemukan berbagai bangunan dan
peninggalan budaya Betawi. Di area ini, terdapat sebuah danau besar yang
merupakan lokasi rekreasi menyenangkan bagi banyak pengunjung.
Tempat
wisata budaya Jakarta yang satu ini adalah salah satu tempat terbaik untuk
menyaksikan budaya Betawi asli secara langsung, dari cara bercocok tanam,
dagang, membuat kerajinan, hingga membuat makanan khas Betawi.
Sedikitnya,
terdapat sekitar 3 ribu kepala keluarga di kawasan perkampungan ini dan
mayoritas dihuni oleh orang asli Betawi yang mendiami daerah tersebut secara
turun-temurun. Setu Babakan adalah tempat terbaik untuk menyantap kuliner khas
Betawi yang sesungguhnya, dari kerak telor, soto betawi, hingga kue apem.
Museum Fatahillah
Terletak
di kawasan Kota Tua Jakarta, Museum Fatahillah adalah tempat terbaik untuk
mengeksplorasi banyak hal tentang sejarah kota Jakarta. Museum Sejarah Jakarta
ini berdiri sejak tahun 1707 dengan gaya arsitektural neoklasik khas abad
ke-17.
Saat
Anda masuk ke dalam museum ini, Anda akan diwajibkan mengenakan sandal lunak
berwarna jingga. Hal ini mengingat lantai Museum Fatahillah berasal dari abad
ke-17 dan penggunaan sepatu akan mengikis lantai tersebut.
Di
museum ini, Anda dapat menjumpai banyak koleksi sejarah sedikitnya sekitar
23.500 benda yang mengisahkan asal-usul Jakarta di masa lampau.
Perbendaharaan
koleksinya terbagai dalam beberapa ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta,
Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan
Ruang MH Thamrin. Dengan membayar tiket masuk Museum Fatahillah sebesar Rp 5
ribu (dewasa) atau mahasiswa (Rp 3 ribu) dan pelajar (Rp 2 ribu).
MAKANAN KHAS JAKARTA
Kerak Telor
Kerak telor merupakan
makanan khas Betawi yang sangat terkenal terutama pada saat acara Pekan Raya
Jakarta. Kerak telor hampir mirip dengan martabak, perbedaanya terletak pada
isi dan cara memuatnya. Isi kerak telor adalah ketan dan ubi. Cara memasak
kerak telor, yaitu dengan dipanaskan di atas tungku arang.
Nasi Uduk
Hampir semua masyaraka
Jakarta (sekalipun bukan orang Betawi) mengenal nasi uduk. Nasi uduk sangat
familiar sebagai sarapan di Jakarta. Mirip dengan nasi liwet, nasi uduk yang
terbuat dari beras putih dimasak bumbu-bumbu. Bumbu-bumbu nasi uduk tersebut seperti
garam, santan, daun serai, daun salam, dan daun jeruk. Rasa nasi uduk sangat
lezat dan gurih. Nasi uduk biasa dimakan dengan telur dadar yang diiris, semur
jengkol, ayam goreng, empal, kentang balado, dan sambal kacang.
Nasi Ulam
Nasi ulam merupakan
makanan khas Betawi yang juga mendapat pengaruh dari budaya kuliner Cina. Nasi
ulam biasanya memakai nasi pera yang disiram dengan semur kentang/ semur tahu/
semur telur. Nasi ulam juga ditambah dengan cumi asin goreng, bihun goreng,
telur dadar iris, dan perkedel kentang. Nasi ulam bertambah nikmat dengan
tambahan daun kemangi, sambal, bawang goreng, dan taburan kacang tanah tumbuk.
Ketupat Sayur / Lontong
Sayur
Ketupat sayur merupakan
makanan khas Betawi yang biasa dijadikan sebagai menu sarapan. Ketupat sayur
terbuat dari irisan ketupat/ lontong dengan kuah santan yang gurih. Taburan
ketupat sayur berupa bawang goreng, kacang kedelai, dan kerupuk/emping.
Gado-gado
Gado-gado merupakan salah
satu kuliner kebanggan Indonesia. Orang asing menyebut gado-gado dengan sebutan
‘seladanya orang Indonesia’. Gado-gado berisi lontong/ ketupat, sayuran,
kerupuk dan bawang goreng. Gado-gado bisa disantap pada saat sarapan, makan
siang, ataupun makan malam. Di Jakarta, banyak sekali penjual gado-gado.
Ketoprak
Ketoprak terbuat dari
ketupat atau lontong yang berisi bihun, toge, dan tahu. Ketoprak Betawi dengan
rasa yang lezat ini disiram dan diaduk dengan sambal kacang. Ketoprak juga
ditaburi dengan kerupuk. Makanan khas Betawi ini termasuk makanan berat yang agak
‘ringan’.
























Nice gamaaal
ReplyDeleteJakartaa kereenn 👍
ReplyDeleteMantap👏
ReplyDeleteMantap gamal yoi sama sama anak jakarta kita wkwkwk blog nya bagus mal���� btw komen blog aku juga yah
ReplyDeleteNiceee pak gamal
ReplyDeletejakarta ohh jakarta,, ga sabar mau menginjakan kaki di pulau pulau baru itu
ReplyDeletejakarta panas mal wkwk
ReplyDeleteWah, gawul nih Jakarta emang gila! Mantap
ReplyDeleteMantaap
ReplyDeleteMakasih infonya gamal, menarik nih
ReplyDelete